Pada awalnya saya tidak respek denga sosok Uwa, heueuh siga nu enya, membesarkan yang tidak pada tempatnya–ga perlu protes wa–tapi itu adalah persepsiku di awal tahun kuliah pasca.
Setelah banyak diskusi ternyata ada sisi kesamaan dalam diri kita–kita sama-sama bangga menjadi orang sunda walaupun bukan orang bandung, saya dari priangan timur uwa dari priangan barat. Uwa menjadi sosok motivator spiritual walaupun kadang kadar spiritualnya juga sering ia abaikan karena urusan pekerjaan. Aku terlebih lagi terjebak dalam pemikiran skuler dan liberal. walaupun sikap dan lakuku tidaklah skuler apalagi liberal aku hanya ingin menjadi manusia multikultur tapi ternyata tidak mampu.
Uwa adalah orang yang sadar dengan dirinya, ia punya ambisi, dan tahu batas kemampuannya, ia bukanlah tipe manusia cengeng yang merengek akan kepedihan hidup, ia tabah, ia pejuang maka itu dia berjuang.
yang jelas sisi kesadaranku menjadi orang sunda dan sadar akan sunda menjadi faktor yang mendekatkanku dengan uwa walaupun kadang ada hal-hal yang membuat kita berdebat dan tidak sepakat, namun itu justeru mengarah pada keterbukaan diri untuk lebih bersilaturahmi baik secara fikri bahkan hati…
Uwa harus kembali menjadi orang kampung, begitu pun aku, yang sadar akan tradisi, yang sadar akan lemah cai, bahwa untuk membangun diri ini bukan dengan uang namun dengan ketakwaan yang pada akhirnya akan mendatangkan persahabatan…
maju terus…Allah akan membukakan jalan kita